SELAMAT DATANG di situs resmi MGMP IPA SMP Kabupaten Lumajang. Meniti Ilmu, Berkarya, dan Berprestasi Bersama Demi Kemajuan Pendidikan. == Dari Kami Untuk Lumajang dan Indonesiaku ==
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Oktober 2015

13 Jenis Penyakit Yang Diderita Guru

He..he..libur dulu nulisnya..pas baca di internet ada artikel menarik membicarakan tentang penyakit guru, saya termasuk yang mana nich…he..he…and yang penting lagi artikel ini mengingatkan kita  untuk sadar kembali kepada ruh dan tujuan pendidikan yaitu menjadikan siswa menjadi manusia utuh seimbang  sehat jasmani ruhani dan berakhlaq mulia. tidak hanya mementingkan pelajaran matematika dan sain..namun memandang penting yang lain seni, sport, dan agama/moral..ok silahkan baca ya…..

———————————————————————————————-
Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta


Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.


Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.

Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita.

Diklasifikasi kedua, yaitu soal aspek metodologis, disinyalir guru bahkan memiliki lebih banyak penyakit. Jenis-jenis penyakitnya, antara lain salesma (sangat lemah sekali membaca), asam urat (asal mengajar, kurang akurat), kusta (kurang strategi), kurap (kurang persiapan), stroke (suka terlambat, rupanya kebiasaan), keram (kurang terampil), serta mual (mutu amat lemah). Aspek metodologis ini memang sangat terkait erat dengan faktor courage dan kesadaran untuk berkembang yang seharusnya dimiliki oleh seorang guru.

Sedangkan diklasifikasi ketiga yang menyangkut aspek keterampilan, penyakit guru disinyalir adalah TBC (tidak bisa computer) dan gaptek (gagap teknologi). Kita memang tak cukup punya bukti statistik, seberapa banyak sebenarnya jumlah guru yang sampai saat ini belum bisa dan mengerti soal komputer dan makna penting teknologi sebagai bagian dari pengembangan bahan ajar di kelas.
Merebaknya jenis-jenis penyakit di atas, meskipun disampaikan dengan cara dan tujuan untuk melucu, jelas memberi kita gambaran kondisi dan suasana batin para guru kita saat ini. Jika penyakit-penyakit tersebut memang benar adanya, kesalahan pertama harus kita tempakan kepada otoritas pendidikan kita yang salah dalam merumuskan kebijakan soal pengembangan kapasitas profesional guru. Guru seakan lupa pada rumusan dan definisi tentang pendidikan yang tertera dengan amat gamblang di dalam undang-undang sistem pendidikan nasional kita, yaitu sebagai sebuah “….usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.

Kata “mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran” jelas merujuk dan menuntut para guru untuk kreatif dalam mengembangkan kerangka berpikir dan bahan ajar di sekolah. Karena itu sangat boleh jadi munculnya gejala penyakit seperti disinyalir di atas relevan dengan sistem pendidikan yang membelenggu akal untuk kreatif, terutama bentukan hierarki kurikulum yang rigid dan berorientasi semata pada dunia kerja.

Seorang pengembang masalah kreativitas di dunia pendidikan, Ken Robinson, mengatakan hampir dapat dipastikan seluruh sistem pendidikan di dunia menempatkan Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi (Sains) sebagai acuan utama tingkat keunggulan sebuah sekolah. Semakin banyak anak yang memiliki kemampuan Matematika dan Sains, semakin prestisiuslah sekolah tersebut. Sebab itu, bidang studi ini memperoleh jam yang begitu tinggi di sekolah, termasuk di antaranya di Indonesia.
Sekolah kita tak memiliki laboratorium seni dan musik yang cukup, juga perpustakaan yang mengoleksi buku-buku sastra yang memadai untuk menumbuhkan kreativitas anak untuk bergerak. Seluruh sekolah kita lebih banyak mengajarkan Matematika dan Sains yang hanya mengandalkan otak dan pikiran, tetapi tak memberi porsi yang cukup kepada anggota tubuh yang lain, seperti badan, tangan, dan kaki untuk bergerak. Berapa jam anak kita mengikuti pelajaran tari dan olahraga di sekolah dalam satu minggu, dan lebih banyak mana ketika anak-anak kita belajar Matematika dan Sains?

Kritik Ken Robinson sangat masuk akal sehingga dia mengatakan kebanyakan guru di sekolah saat ini menganggap bahwa badan, tangan, dan kaki mereka hanya sebagai alat transportasi kepala mereka yang penuh rumus dan terkadang membingungkan. Efek seperti ini dapat menjadikan seseorang mati rasa, antisosial, dan menjadi sangat arogan cara berpikir dan bertindaknya. Dalam rumus tak ditoleransi kesalahan. Padahal sebuah kesalahan, dalam teori belajar, merupakan awal dari sebuah kreativitas besar. 

(Sumber: Lampung Post)

Selasa, 22 September 2015

Otak Kiri, Otak Kanan, Atau Keduanya?

Pernah mendengar istilah Otak Kanan?,,,,, Saya kira mungkin anda pernah sudah mendengarnya, hanya saja mungkin tidak begitu detail informasinya. Ya,, karena masih jarang lembaga pendidikan yang mengajarkan betapa pentingnya fungsi otak kanan ini. Kalaupun ada itu mungkin hanya pada universitas jurusan psikologi saja. Padahal tahu nggak, jika manusia itu sebenarnya lebih banyak bekerja menggunakan pola pikir otak kanannya ketimbang dengan otak kirinya. 


Dan, menurut para pengamat bisnis, “Untuk bisa bersaing ketat dan memajukan usaha ,  seorang pebisnis harus bisa berimprovisasi menggunakan otak kanannya”. Nah lo, menurut siapa itu?,,,, Gak percaya, cobalah tanyakan pada mereka atau baca terus artikel ini!!
Apa sih fungsi otak kanan itu?,,,,dan bagaimana cara melatih otak kanan?
Kalau kita mendapat pelajaran di sekolah seperti matematika, fisika, kimia atau yang lainnya adalah hanya melatih otak kiri. Jadi anda mungkin sudah bisa menyimpulkan, bahwa otak kiri hanyalah bertugas menerima, menganalisa, mempelajari atau mengerjakan hal yang bersifat logika atau rasional. Sedangkan otak kanan adalah kebalikan dari otak kiri, yaitu lebih kepada memikirkan hal-hal yang bersifat diluar perhitungan logika. Hal yang diluar perhitungan logika bisa seperti misalnya, memainkan musik atau hal yang bersifat seni lainnya, berimajinasi dsb.
Perbedaan Otak Kanan dan Otak Kiri

Otak kiri

Otak Kanan

Motorik kanan
terencana, kausal
Rasional, terkait EQ
Realistis, analistik
kuantitatif, aritmatik
Verbal, eksplisit
kognitif, logis
Serial, linear
Segmental, fokus
Terencana, kausal
Intra personal, self-centric
motorik kiri
tak terencana, impulsif
kualitatif, spesial
emosional terkait, EQ
imajinatif, artistik
aktif, intuatif
holistik, difus
visual, implisit
paralel, lateral
interpersonal, other centric

Cara Kerja Dan Fungsi Otak Kanan Dan Otak Kiri Manusia

Cara kerja otak kiri manusia

Cara kerja otak di bagian kiri kepala manusia adalah lebih memikirkan hal yang rasional dan realistis saat menganalisis atau memperhitungkan sesuatu hal. Contohnya: Ketika seseorang ingin memulai atau membangun usaha. Jika seseorang arah berfikirnya lebih dominan ke arah otak kiri,   maka saat akan membangun usaha ia akan lebih banyak perhitungan sebelum memulainya, memperhitungkan untung ruginya, lalu jika dirasa keuntungannya lebih besar baru akan dijalankan, namun jika dirasa keuntungannya tipis atau bahkan tidak sama sekali mereka biasanya akan segera menghentikannya.

Cara Kerja Otak Kanan Manusia

Cara kerja otak kiri berbeda dengan cara kerja otak kanan, yaitu lebih memikirkan pentingnya segera bertindak, istilah dalam dunia bisnis adalah Take Action!.
“Kalau tidak kita coba,  mana kita tahu!!” , itulah sala satu cara berpikir orang yang lebih dominan menggunakan otak kanannya. Orang yang lebih dominan menggunakan otak kanan , pada saat ia akan memulai usaha,  ia jarang memikirkan sesuatu yang seperti ini: ” Apakah Aku Mampu?”, “Bagaimana nanti kalau rugi”, “aku tak cukup modal”, dsb. Jadi hal ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan pada bab paragraf awal tadi.

Pentingnya Fungsi Otak kanan

Jika kita melihat studi kasus di paragraf atas, demi keberhasilan dan kesuksesan hidup, maka fungsi otak kanan sebenarnya lebih baik untuk kita terapkan. Karena jika kita terlalu lama berpikir, maka kita akan lupa untuk bertindak, padahal dalam hidup kita harus selalu hidup (bergerak). Seperti kata bijak albert einstein, kata-katanya kurang lebih begini;
“Hidup itu seperti naik sepeda. Agar tetap seimbang, kau harus terus bergerak!”
Albert Einsten adalah seorang ilmuwan dan guru besar, ia mengajarkan pengetahuannya melalui kata-kata bijak dan rumus-rumus kehidupan. Jika kita menelaah apa yang disampaikan oleh Albert Einstein di atas, maka secara tidak langsung ia mengatakan bahwa;
Hidup itu harus lebih dominan ke otak kanan (Bergerak)
Nah itulah penjelasan mengenai otak kanan dan pentingnya untuk diterapkan dalam kehidupan. Walaupun pengajaran yang melatih otak kanan jarang didapat dari lembaga pendidikan formal, jangan khawatir, karena anda dapat berlatih sendiri dirumah.


Guru : Antara Pendidik, Teman, dan Dokter Jiwa

Saya nggak bisa mengerjakan, nggak bisa mikir bu, sulit sulit sekali soalnya,…
Saya mau keluar  saja bu, saya mau kerja saja, lha bapak sudah  ndak bisa biayai saya lagi,…
Bu, saya mau pindah saja, saya nggak bisa belajar kalau di kelas ini, ….
Orang tua saya bercerai bu, saya bingung harus gimana, mau belajar  nggak bisa konsentrasi….
Rasanya saya mau mati saja, saya nggak mau diputusin….
Saya  nggakmau sekolah, sebelum saya diberikan motor baru….
Bagaimana bisa saya belajar, tiap malam saya harus kerja, di penjual  mie goreng perempatan itu….

Kalimat-kalimat di atas merupakan sebagian kecil dari sekian banyak yang pernah saya temui di kelas. Saat anak didik saya mengalami masalah yang mengakibatkan mereka mengalami kesulitan saat mereka belajar. Sebagian guru mungkin pernah terbersit dalam benaknya, “andai saja separuh anak didikku itu adalah anak yang manis-manis, tak bermasalah, rajin dan segala hal yang baik-baik ada padanya, tentunya segala teori-teori tentang pembelajaran  maupun  penilaian akan  bisa dilaksanakan dengan ideal”. Tak usahlah kita berandai-andai mengharapkan hal yang muluk-muluk, sebab hal itu tidak ada gunanya dan malah akan menguras energi kita, kita hadapi saja realitanya, nyatanya sebagian besar anak didik kita tidak sesuai dengan harapan-harapan yang ideal. Jika anak didik kita sebanyak 25 anak, akan ada 25 atau bahkan lebih permasalahan-permasalahan yang mereka bawa ke sekolah, dan sebagai pendidik kita harus bisa menyikapi masalah-masalah tersebut.



Sebagai salah satu pengajar, menurut saya anak seusia SMP/SMA itu unik, labil (mudah berubah), dinamis (suka berkembang), suka meniru, mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, penuh semangat dan tantangan. Pada usia yang lebih sering disebut dengan masa remaja, lebih tepatnya masa remaja pertengahan ini terjadi peralihan dari masa kanak-kanak dan masa dewasa. Pada masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan baik secara fisik maupun psikis. Mereka bukan lagi anak-anak baik badan maupun cara berpikir atau cara bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.

Menurut Steinberg (dalam Santrock, 2002: 42) masa remaja  adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealisme dan penalaran logis, perubahan social yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak orang tua dan remaja.

Sebagai pendidik, salah satu kompetensi yang harus dimiliki adalah mengenali karakteristik peserta didik. Kita tidak bisa “nggebyah uyah” menganggap semua peserta didik kita sama, masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda. Permasalahan yang mereka bawa ke sekolahpun juga  berbeda-beda. Misalnya saja si A anak yang pandai berasal dari keluarga kurang mampu, terbiasa bekerja keras akan berbeda dengan si B anak yang pandai berasal dari keluarga mampu dan tidak terbiasa bekerja keras. Si C yang lebih suka belajar dengan mendengarkan music akan berbeda dengan si D yang lebih nyaman belajar dalam keheningan.

Untuk mengetahui bagaimana karakteristik peserta didik tersebut guru harus lebih banyak berinteraksi dan berkomunikasi baik saat pembelajaran maupun diluar jam belajar. Selain sebagai teman  belajar (pendidik) guru juga harus bisa menempatkan diri sebagai teman bicara, anak muda bilang “teman curhat” atau bahkan mungkin bila sangat emergency bisa berperan sebagai psikolog ataupun dokter jiwa.


Pada usia remaja, anak merasa lebih nyaman menceritakan permasalahan-permasalahannya kepada temannya dari pada kepada ke kedua orang tuanya, apalagi pada zaman sekarang kebanyakan orang tua lebih banyak disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan hidup yang semakin banyak. Oleh sebab itu sebagai guru kita harus bisa menjadi teman yang baik dengan menciptakan interaksi social yang baik dalam kelas, mulai dari menyapa, menanyakan kabar mereka, memberikan perhatian yang lebih pada anak-anak yang membutuhkan. Bersikap menyenangkan, baik, ramah, dan penuh perhatian.

Bertingkah laku dan prososial, jujur,  murah hati dan mau bekerja sama. Menghargai diri sendiri dan menghargai setiap jerih payah mereka dan jangan pelit-pelit memberikan pujian. Menyediakan waktu untuk memberikan bimbingan, nasehat, dukungan sosial, kalau perlu jadi dokter jiwa jika kita bisa.

Oleh : Ulfa Nimatil Hasanah, S.Pd. (www.kompasiana.com)

Mengawal Pendidikan Karakter Untuk Membentuk Karakter Bangsa

Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan keputusan moral yang harus ditindak lanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi kebiasaan dan membentuk watak atau tabiat seseorang.
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar, dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai - nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya.


Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekkan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah, lingkungan sekolah, dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus antara lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga, dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat proses pembentukan tersebut.
Di samping itu, tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai - nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.

Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata - mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai - nilai etika, estetika, dan budi pekerti yang luhur. Selain itu karakter yang harus dimiliki siswa diantaranya yaitu kerja sama, disiplin, taat, dan tanggung jawab. Dan yang terpenting adalah praktekkan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.

Guru Idaman

Ki Hajar Dewantoro yang lahir pada 2 Mei 1899dan tiap tanggal 2 Mei kita memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), telah mengambarkan tentang sosok guru idaman nan ideal. Saya yakin kata-kata beliau tidak asing lagi di telingga kita. 



Menurut beliau seorang guru harus:

1. Ing Ngarso Sung Tulodho

Kunci sukses pendidikan yang pertama dan utama adalah Akhlaq. Guru benar–benar harus bisa menjadi teladan dalam berakhlaq. Anak didik kebanyakan lebih percaya dengan gurunya daripada orangtuanya, karena guru dianggap tahu segala-galanya. Untuk itu segala tingkah laku, sopan santun guru akan menjadi panutan muridnya. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.

2. Ing Madyo Mangun Karso

Kunci sukses kedua adalah Minat dan Semangat Belajar. Guru harus benar–benar menjadi penggali minat dan pemompa semangat belajar anak sehingga setiap anak mampu berpikir kritis dan belajar mandiri.

Jadi sebetulnya guru tidak perlu banyak mengajar, justru lebih perlu banyak menggagas tentang beragam bintang prestasi di langit yang perlu setiap siswa gapai.

Seorang bijak berpendapat bahwa tugas guru itu ibaratnya bercerita tentang enaknya ilmu dan membangkitkan selera anak untuk melahap ilmu tersebut. Keberhasilan tertinggi guru adalah jika mampu mengubah siswa yang mogok belajar menjadi siswa lebih pandai dari dirinya. Ini bukan tidak mungkin, karena otak anak dalam golden-age sedang otak gurunya sudah mulai telmi (maaf: telat mikir), waktu belajar anak lebih luas, sementara waktu belajar guru lebih terbatas, sumber belajar saat ini lebih banyak daripada sumber belajar ketika guru kuliah.

3. Tut Wuri Handayani


Kunci sukses ketiga adalah Pengasuhan dan Pengayoman. Guru harus benar–benar pengganti orang tua yang menerapkan Asah, Asih, Asuh, namun sekali lagi bukan dalam arti mengajar tapi mendidik.

Minggu, 20 September 2015

Memaksimalkan Prestasi Belajar Siswa

Prestasi belajar merupakan hasil yang dicapai oleh seseorang setelah ia melakukan perubahan belajar, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Di dalam webster’s New Internasional Dictionary mengungkapkan tentang prestasi yaitu: “Achievement test a standardised test for measuring the skill or knowledge by person in one more lines of work a study” (Webster’s New Internasional Dictionary, 1951 : 20) yang mempunyai arti kurang lebih prestasi adalah standar tes untuk mengukur kecakapan atau pengetahuan bagi seseorang didalam satu atau lebih dari garis-garis pekerjaan atau belajar. Dalam kamus populer prestasi ialah hasil sesuatu yang telah dicapai (Purwodarminto, 1979 : 251)



Pengertian Prestasi Belajar Menurut Ahli
Menurut Drs. H. Abu Ahmadi, secara teori prestasi belajar merupakan suatu kegiatan yang dapat memuaskan suatu kebutuhan, maka ada kecenderungan besar untuk mengulanginya. Sumber penguat belajar dapat secara ekstrinsik (nilai, pengakuan, penghargaan) dan dapat secara ekstrinsik (kegairahan  untuk menyelidiki, mengartikan situasi).

Disamping itu siswa memerlukan/ dan harus menerima umpan balik secara langsung derajat sukses pelaksanaan tugas (nilai raport/nilai test) (Psikologi Belajar DRS.H Abu Ahmadi, Drs. Widodo Supriyono 151)

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar ialah hasil usaha bekerja atau belajar yang menunjukkan ukuran kecakapan yang dicapai dalam bentuk nilai. Sedangkan prestasi belajar hasil usaha belajar yang berupa nilai-nilai sebagai ukuran kecakapan dari usaha belajar yang telah dicapai seseorang, prestasi belajar ditunjukan dengan jumlah nilai raport atau test nilai sumatif.

Ada beberapa cara untuk meningkatkan prestasi salah satunya adalah dengan memperhatikan dan mencermati  gaya belajar dan cara belajar yang baik.

Cara Mengukur Prestasi Belajar

Metode yang selama ini digunakan adalah dengan mengukur tes-tes, yang biasa disebut dengan ulangan. Tes dibagi menjadi dua yaitu: tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif adalah tes yang diadakan sebelum atau selama pelajaran berlangsung, sedangkan tes sumatif adalah tes yang diselenggarakan pada saat keseluruhan kegiatan belajar mengajar, tes sumatif merupakan ujian akhir semester.


Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Evaluasi Pendidikan (1986: 26) menyebutkan “ Tes dibedakan menjadi tiga macam yaitu tes diagnostik, tes formatif, tes sumatif”

1.  Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk menentukan kelemahan dan   kelebihan siswa dengan melihat gejala-gejalanya sehingga diketahui kelemahan dan kelebihan tersebut pada siswa dapat dilakukan perlakuan yang tepat.
2.  Tes formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memahami suatu satuan pelajaran tertentu. Tes ini diberikan sebagai usaha memperbaiki proses belajar.
3.  Tes sumatif dapat digunakan pada ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau semester. Dari tes sumatif inilah prestasi belajar siswa diketahui.

      Dalam penelitian ini evaluasi yang digunakan adalah dalam jenis yang di titik beratkan pada evaluasi belajar siswa di sekolah yang dilaksanakan oleh guru untuk mengetahui prestasi belajar siswa.

Sebagaimana yang telah diuraikan di atasbahwa tes ini  dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, tes ini dapat berguna untuk mendeskripsikan kemampuan belajar siswa,  mengetahui tingkat keberhasilan PBM, menentukan tindak lanjut hasil penilaian, dan memberikan pertanggung jawaban (accountability).

 Belajar Efektif

 Menurut The Liang Gie ada 4 macam cara belajar efektif yaitu:  keteraturan cara belajar, disiplin belajar, konsentrasi dan  pemakaian perpustakaan (The Liang Gie, 1988 : 57 – 65)

 1)     Keteraturan Dalam Belajar
Cara belajar yang efektif dan efisien mengandung asas-asas tertentu yang tidak saja untuk dipahami melainkan lebih dihayati sepanjang masa dalam belajarnya. Asas adalah suatu dalil umum yang dapat diterapkan pada suatu rangkaian kegiatan untuk menjadi petunjuk dalam melakukan tindakan-tindakan. Yang menjadi pokok pangkal pertama dalam mencapai titik temu belajar yang baik ialah adanya suatu keteraturan, baik dalam belajar, mencatat ataupun menyimpan alat-alat perlengkapan untuk belajar.

2)    Disiplin Belajar
Asas lain cara belajar yang baik ialah disiplin. Dengan jalan berdisiplin untuk melaksanakan pedoman-pedoman yang baik di dalam usaha belajar, barulah seseorang mempunyai cara belajar yang baik. Karena berdisiplin selain akan membuat seseorang memiliki kecakapan mengenai cara belajar yang baik juga merupakan suatu proses kearah pembentukan watak yang baik yang akan menciptakan pribadi yang luhur. Dengan demikian cara belajar yang baik adalah suatu kecakapan yang dapat dimiliki seseorang dengan jalan latihan.

3)     Konsentrasi
Setiap orang yang sedang menuntut ilmu harus melakukan konsentrasi dalam belajarnya, karena tanpa konsentrasi dalam belajarnya, tak mungkin berhasil menguasai   pelajaran  yang  diberikannya.   Konsentrasi   adalah   pemusatan pikiran terhadap suatu hal dengan menyampaikan semua hal lainnya yang tidak berhubungan.

4)     Pemakaian Perpustakaan
Selain keteraturan, disiplin dan konsentrasi masih ada satu hal lagi yang perlu dijadikan pedoman, yaitu perpustakaan, sebab tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa bacaan dan gudang bacaan itu hanya terdapat dalam perpustakaan Perlunya pemakaian kepustakaan sebab tidak ada belajar yang dapat dilaksanakan tanpa buku bacaan, minat baca untuk meningkatkan prestasi belajar.

Motivasi Belajar Siswa

Pada dasarnya masa remaja (usia SMP-SMA) merupakan masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang. Usia remaja sangat rentan dengan keadaan lingkungan dan pergaulan.
Pada era sekarang ini remaja telah terkontaminasi dengan perkembangan jaman dan teknologi. Perkembangan teknologi tidak berarah ke perubahan yang positif malah menjadikan remaja menuju ke hal-hal yang negatif yang membentuk pribadi dan motivasi belajar yang kurang baik bagi remaja.

Fungsi Motivasi Belajar Anak Remaja

Motivasi adalah penting, bahkan tanpa kesepakatan tertentu mengenai definisi konsep tersebut. Apabila terdapat dua anak yang memiliki kemampuan sama dan memberikan peluang dan kondisi yang sama untuk mencapai tujuan, kinerja dan hasil-hasil yang dicapai oleh anak yang termotivasi akan lebih baik dibandingkan dengan anak yang tidak termotivasi. Hal ini dapat diketahui dari pengalaman dan pengamatan sehari-hari.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa apabila anak tidak memiliki motivasi belajar, maka tidak akan terjadi kegiatan belajar pada diri anak tersebut. Walaupun begitu hal itu kadang-kadang menjadi masalah, karena motivasi bukanlah suatu kondisi. Apabila motivasi belajar anak itu rendah umumnya diasumsikan bahwa prestasi siswa yang bersangkutan akan rendah.

Pentingnya peranan motivasi dalam proses belajar perlu dipahami oleh pendidik agar dapat melakukan berbagai bentuk tindakan atau bantuan kepada siswa. Motivasi belajar dirumuskan sebagai dorongan, baik diakibatkan faktor dari dalam maupun luar, untuk mencapai tujuan tertentu guna memenuhi / memuaskan suatu kebutuhan.

Peran motivasi dalam proses belajar, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar anak.

Adapun fungsi dari motivasi dalam belajar diantaranya :

1.  Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.
2.  Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
3.  Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Pada garis besarnya motivasi belajar mengandung nilai-nilai dalam pembelajaran sebagai berikut :

1.   Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar anak.
2.  Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri anak.
3.  Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi belajar ana.
4.  Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakn motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas.
5.  Penggunaan asas motivasi belajar merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran

Semoga dengan tulisan ini akan ada perubahan yang terjadi baik dari sisi siswa maupun pendidik untuk menjadikan PRESTASI sebagai suatu tujuan.

Menukil wejangan Sunan Drajat, ”wenehono teken marang wong kang ora iso mlaku”, diharapkan ada kesadaran dan pemahaman bagi orang yang lebih paham (pendidik) untuk memberikan cara maupun ilmu kepada orang lain yang lebih membutuhkan (siswa) sehingga ke depan terjadi keseimbangan dan keharmonisan, dan tidak mungkin prestasi akan mudah untuk diraih.

SALAM SUKSES.


Sabtu, 19 September 2015

Agar Belajar Fisika Lebih Mudah dan Menyenangkan

Lagi-lagi pertanyaan ini. “Gimana sih, supaya bisa fisika?” atau “Fisika kok susah ya?” Pertanyaan yang hampir selalu dilontarkan oleh peserta didik, ketika saya mengajar fisika. Mungkin sudah takdir bagi saya sebagai guru fisika. Atau mungkin karena saya saja yang kurang pandai mengajarnya. Dan atas pertanyaan itu sampai saat ini belum ada jawaban yang saya lontarkan paling cuma berkomentar sedikit, tapi saya pikir belum sampai kepada inti permasalahannya. Paling cuma jawaban klise begini: “fisika itu nggak sulit, asal….”
Nah di sinilah letak masalahnya, saya menganggap bahwa keadaan, kemampuan dan bakat peserta didik itu sama, padahal sulit dan mudahnya itu kan relatif. Fisika itu bisa dianggap sulit, dan bisa juga dianggap mudah. Terlalu banyak faktor yang mempengaruhinya. Tidak percaya? Coba saja tanyakan kepada teman kita yang waktu ujian kemarin dapat nilai 100,00. Meski mereka mendapatkan nilai sempurna, tetap saja ada sebagian dari mereka menjawab bahwa fisika itu tetap sulit. Jadi relatif kan?
          Untuk sekarang ini, saya mencoba memposisikan diri di kelompok yang mayoritas, yaitu mazhab yang mengatakan bahwa fisika itu sulit. Tetapi, perlu diingat! Bahwa tidak semua yang sulit itu tidak menyenangkan. Tidak semua yang sulit itu tidak menarik. Tidak semua yang sulit itu tidak bertaburkan keindahan. Tidak semua yang sulit itu tidak bisa dicapai. Karena biasanya sesuatu yang diperoleh dengan sedikit bersulit-sulit, akan memperoleh kepuasan yang lebih. Seperti hadist tentang puasa, dari Abu Hurairah radhiallahu `anhu, dia bercerita, Rasulullah shallallhu `alayhi wasallam bersabda, “Setiap amal anak Adam akan dibalas berlipat ganda. Kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya sampai 700 kali lipat. Allah Ta`ala berfirman, `Kecuali puasa, di mana puasa itu adalah untuk diri-Ku dan Aku akan membalasnya. Dia meninggalkan nafsu syahwat dan makanan demi diri-Ku. Dan orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan; kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan saat berjumpa dengan Rabbnya. Dan sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi” (HR. al-Bukhari dan Muslim, lafazh di atas bagi Muslim)






Dalam tulisan ini, ada sedikit tips-tips (dibuat 8 agar sesuai dengan sekolah kita), bagaimana fisika yang sulit ini, jadi ‘kelihatan’ mudah. Ingat, ‘kelihatan’. Bukan aslinya. Karena ukuran mudah disini adalah ukuran mudah untuk orang umum. Bukan mudah untuk orang perorang. Dan tips ini hanya berkaitan dengan yang bersifat teknis, sedangkan untuk psikisnya itu berbeda.

1.   Pahami terlebih dahulu pokok bahasan atau materi yang akan dipelajari
         Artinya, pahami terlebih dahulu, apa sih yang akan dipelajari? Apa gunanya? Ada tidak relevansinya dengan kehidupan kita? Jika itu belum terjawab, tanyakan terlebih dahulu kepada guru; karena bisa jadi ada yang terlupa disampaikan. Atau bisa juga mencari informasi dari buku-buku atau bacaan lain. Karena, ibarat perang; masa kita nggak tahu kayak apa musuh yang akan kita hadapi. Karena semakin banyak kita mendapatkan informasi tentang musuh kita, kita akan mudah menundukannya, dan menjadikannya sebagai mitra kita untuk berkoalisi untuk menghadapi musuh lain. (hm, bukan bermaksud mengajari berpolitisi).

2. Hubungkan materi yang akan dipelajari dengan materi pendukungnya yang sudah diketahui
          Terkadang beberapa guru (lagi-lagi guru), sering lupa menghubungkan materi yang baru dengan materi yang lama; padahal keduanya ada berhubungan cukup erat. Seolah-olah materi yang akan dipelajari ini terlepas dari materi yang sudah-sudah. Jadi, jika ada materi baru, tanyakan kepada guru, kira-kira apa kaitannya dengan masa lalu. Hal ini akan memudahkan kita menarik benang merah hubungan antara keduanya.

3. Jangan menghafal rumus, tapi pahami dari mana rumus itu berasal (konsepnya).
         Dimengertilah dahulu alur rumus dari konsep awal sampai menjadi rumus akhir. Tujuannya adalah supaya kita mengerti darimana rumus-rumus itu berasal, semenjak konsep yang mendasarinya sampai menjadi rumus akhir, kecuali beberapa rumus yang sudah merupakan definisi dan rumus ini biasanya sangat sederhana. Setelah kita mengerti rumus tersebut, adalah hal yang sangat mudah untuk menghapal rumus tersebut..
         Rumus yang dihafal dan dimengerti darimana ia berasal akan mudah untuk selalu diingat dan dipanggil dari memori kita saat kita terlupa; berbeda jika menghafal rumus itu dengan membabi buta, akan terbolak-balik begitu kita akan mengingat-ngingat kembali.
         Keindahan fisika sebenarnya terletak pada konsep, yang selama ini sering ditelantarkan. Dengan memahami konsep secara baik (dan benar), kita dapat menjelaskan berbagai hal dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan ilmu fisika. Dengan memahami konsep secara baik dan benar, rumus-rumus yang sulit dengan sendirinya akan terpahami dengan mudah.
        

4. Pelajari mulai dari tingkat paling dasar dari materi yang dipelajari.
         Biasanya rumus-rumus fisika di buku yang kelihatannya sangat rumit sebenarnya berasal dari konsep yang sederhana. Misalnya konsep tentang gaya, atau tentang energi, yang diturunkan menjadi rumus akhir yang dibutuhkan. Pelajari konsep  tersebut dahulu, sebelum pergi ke rumus akhir.
        
5. Latihlah pemahaman dengan mengerjakan soal, dan mulailah dari soal yang paling mudah
          Ketika menghadapi musuh, kita perlu yang namanya keberanian. Bagi yang penakut, maka dia dikatakan sudah kalah sebelum bertempur. Karena itu coba jurus-jurus (pemahaman) yang telah diberikan oleh sang guru untuk mencoba menaklukan beberapa soal. Cobalah berani.            Mulai dari soal-soal yang kita anggap atau kelihatan mudah. Jika kita ragu, minta pilihkan dengan guru, soal mana yang sebaiknya terlebih dahulu kita kerjakan. Kemenangan demi kemenangan dalam menaklukan beberapa soal menjadikan suatu pengalaman yang sulit terlupakan. Dan ini akan menjadi suatu ekstase yang mencandukan.

6. Kembangkan ke soal yang lebih sulit agar pengetahuan lebih mendalam.
         Jangan selalu terbuai dengan kemenangan-kemenangan menghadapi lawan yang lebih lemah.
Kemenangan yang seperti itu, meski berguna untuk meningkatkan motivasi; namun tidak menguji kita dengan sebenarnya. Cobalah, mulai berkenalan dengan soal-soal yang lebih sulit, atau bervariasi. Keberhasilan kita menaklukan soal dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi akan membawa suatu kenikmatan yang berbeda.
         Perlu kita ingat, bahwa ada lima kompetensi yang sebaiknya kita miliki untuk melihat kepahaman kita dalam mempelajari fisika, yaitu mengerjakan soal-soal fisika dalam satu langkah; mengerjakan soal dalam beberapa langkah; menggambar sketsa; menggambar grafik dan mengubah variabel.

7. Seringlah berlatih dengan mengerjakan banyak soal, semakin banyak soal yang dikerjakan maka semakin mengerti kita tentang materi fisika.
          Mengapa mengerjakan latihan soal sesering mungkin ? Kalau kita sering mengerjakan soal fisika, dengan sendirinya rumus diingat, dan akan terhapal dengan sendirinya. Kita juga semakin memahami konsep fisika. Ingat waktu pertama kali belajar makan, bolak-balik makanan itu berlepotan di mulut kita (dan alhamdullillah ibu kita mengajari dengan kesabaran yang luar biasa), tapi karena itu berulang-ulang akhirnya kita mahir makan dan tidak akan pernah akan ketinggalan jika diajak makan.
Ketika kita belajar naik sepeda? rasanya sangat sulit sekali dan menakutkan. Kita bahkan mungkin jatuh berulangkali, tapi kemdian? Sama saja dengan fisika. Jika kita sering latihan soal, kepiawaian kita makin tinggi.

8. Katakan “Itu Sulit, Tapi Insya Allah Saya Bisa”; bukan kata “Itu Saya Insya Allah Bisa, Tapi Sulit”.
         Lha apa bedanya dari dua kalimat itu? Jelas Beda. Pada kalimat pertama ada sedikit optimisme dan keyakinan. Sedangkan kalimat kedua ada perasaan pesimisme yang dibalut dengan keraguan; kalimat ini seolah-olah sudah membuat dinding pembatas bagi kita untuk berbuat; kalimat ini seolah-olah memberati kaki kita untuk melangkah. Sedangkan kata-kata Itu Sulit, Tetapi Insya Allah Saya Bisa akan memotivasi kita untuk selalu berbuat dan berusaha. Kata-kata ini kan menjelaskan bahwa fisika itu sifatnya memang sulit, tapi insya Allah kita bisa.
          Begitulah kira-kira, sedikit sumbang saran. Apakah masih berpendapat bahwa fisika itu mudah? Eh, sulit maksudnya? Jika demikian, bagaimana jika kita saling membantu untuk membuat agar fisika itu kelihatan mudah? Seperti dahulu, ketika pertama kali saya akan mendaki gunung, melihat gunung yang sedemikian tinggi, rumit, malam-malam lagi perjalanannya. Setelah didaki, ternyata memang gunung tersebut tinggi, sukar, dingin, mengerikan, tapi….. setelah dipuncaknya sungguh menyenangkan! Kita belajar dan ternyata kita mampu untuk bisa menaklukan ego diri agar tidak cepat patah semangat, kita bisa berlatih tolong menolong, kita bisa menikmati dan mentadaburi keindahan ciptaan-Nya, kita bisa….!

         Begitulah, sedikit tips, jika ada yang mau menambah, atau nggak setuju, silakan saja dikomentari. Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat belajar fisika!


Penulis : Muhammad Yosief Fu’adi S.Si

Disadur dari http://www.namakuyosief.co.nr